Ketahui Ciri-ciri Kejang Pada Anak Yang Berbahaya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Ketika anak mengalami tegang secara tiba-tiba pastinya membikin orang tua merasa cemas dan panik. Kejang merupakan hasil dari ledakan aktivitas listrik secara tiba-tiba dan tidak terkendali di otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, gerakan, emosi dan tingkat kesadaran. Gejala tegang pada anak-anak perlu perhatian khusus, Bunda terutama pada bayi dan balita.

Terdapat banyak jenis kejang, indikasi serta tingkat keparahannya. Jenis tegang berbeda-beda tergantung pada letak awalnya di otak dan seberapa jauh penyebarannya. Sebagian besar tegang berjalan selama 30 detik hingga dua menit, tetapi tegang nan berjalan lebih dari lima menit dianggap sebagai keadaan darurat medis dan memerlukan perhatian segera.

Saat Si Kecil demam tinggi dan mengalami kejang, perihal ini menjadi tanda bahwa keadaan mereka memerlukan pertimbangan medis dengan segera. Bunda perlu waspada terhadap gejala-gejala lain seperti muntah, lemas, alias kebingungan nan terjadi sebelum alias setelah kejang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apabila Si Kecil mengalami dua alias lebih tegang dalam rentang waktu 24 jam nan tidak diketahui penyebabnya. Hal ini dianggap tegang nan cukup serius dan berbahaya, Bunda.

Memahami ciri-ciri tegang nan rawan merupakan langkah krusial dalam menjaga keselamatan anak. Dengan mengenali tanda-tanda peringatan dan bertindak cepat, Bunda juga membantu memastikan bahwa anak menerima perawatan nan sesuai dan mengurangi akibat komplikasi nan berbahaya.

Proses terjadinya kejang

Menilik Cleveland Clinic, kejang terjadi lantaran gangguan pada sistem komunikasi neuron di otak. Ketika neuron melepaskan sinyal listrik secara tidak terkendali, perihal ini memicu serangkaian reaksi nan menyebabkan terjadinya kejang. Semakin banyak neuron nan terlibat dalam proses ini, semakin parah tegang nan dialami, Bunda.

Kerusakan pada neuron akibat tegang terjadi ketika proses tegang berjalan terlalu lama, alias terjadi secara berulang. Hal ini menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel otak, pada gilirannya dapat memengaruhi kegunaan otak anak secara keseluruhan.

Sementara itu, tegang juga dapat memengaruhi keseimbangan kimia dalam darah, sehingga berakibat jelek pada otak jika berjalan dalam jangka waktu nan lama, Bunda.

Bagaimana penyebaran tegang dalam tubuh?

Mengetahui letak terjadinya tegang dalam otak berkedudukan krusial pada proses pemeriksaan dan penanganan kejang. Jenis tegang nan dialami oleh anak dapat memberikan petunjuk tentang letak gangguan aktivitas listrik terjadi.

Kejang umum terjadi di kedua sisi otak dan sering kali menyebabkan pengaruh nan lebih luas dan parah. Kemudian bisa menyertakan tegang ke seluruh tubuh alias kehilangan kesadaran pada Si Kecil.

Di sisi lain, tegang fokal juga dikenal sebagai tegang parsial nan terjadi hanya di satu sisi otak. Hal ini menyebabkan indikasi nan terlokalisasi pada bagian tertentu dari tubuh alias kegunaan otak. Meski awalnya terjadi di satu sisi otak, tegang fokal terkadang dapat menyebar dan menjadi tegang umum.

Faktor pemicu tegang pada anak

Menilik penjelasan di laman Kemenkes, kejang pada anak dapat dipicu oleh beberapa faktor. Berikut deretannya:

1. Demam

Ketika Si Kecil mengalami peningkatan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celsius saat demam, dapat memicu indikasi kejang. Hal ini dinamakan tegang demam. Diungkap dr. Devia Irine Putri dari RS dr. Mohammad Hoesin Palembang bahwa tegang demam dapat menyerang bayi berumur enam bulan.

“Kondisi ini umumnya dialami oleh anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Orang awam menyebut demam ini dengan ‘step’ pada anak. Biasanya, peningkatan suhu nan menyebabkan tegang ini bisa dipengaruhi oleh adanya aspek jangkitan pada tubuh anak,” ujar Devia seperti nan dikutip dari Kemenkes.

Kejang ini dapat dipicu oleh demam tinggi dan sering kali menjadi pengalaman nan menakutkan bagi orang tua. Namun krusial untuk memahami bahwa tegang demam umumnya mempunyai dua kategori berbeda nan menentukan tingkat keparahannya.

Kejang demam nan berjalan kurang dari 15 menit disebut "sederhana". Meski menakutkan, tegang semacam itu biasanya tidak mempunyai pengaruh neurologis jangka panjang pada anak. Hal ini berfaedah bahwa setelah tegang berakhir, anak condong pulih sepenuhnya tanpa komplikasi nan serius.

Tetapi jika tegang demam berjalan lebih dari 15 menit, itu disebut "kompleks" dan dapat menimbulkan akibat perubahan neurologis jangka panjang pada anak. Dalam kasus ini, krusial untuk segera mencari support medis untuk mengevaluasi dan mengelola kondisi dengan tepat.

2. Epilepsi

Kejang juga dipicu oleh epilepsi, perihal ini merupakan kondisi di mana terjadi tegang berulang tanpa penyebab nan jelas. Sebelum tegang terjadi, anak mungkin beraktivitas seperti biasa, dan setelah tegang berakhir, mereka kembali ke aktivitas sehari-hari.

Gejala epilepsi tidak selalu kudu terjadi dalam corak kelojotan dan busa. Kejang epilepsi dapat bervariasi, mulai dari kekakuan otot di seluruh tubuh, tegang sebagian pada lengan alias tungkai, kedutan di sebelah mata alias wajah, hingga hilangnya kesadaran sesaat di mana anak terlihat termenung alias melamun.

Beberapa anak juga mungkin mengalami sentakan tiba-tiba pada tangan alias kaki, apalagi tiba-tiba jatuh tanpa argumen nan jelas. Gejala tegang ini sangat tergantung pada area otak nan menjadi konsentrasi tegang dan bervariasi pada setiap anak. Pemicu tegang pada anak dengan epilepsi seperti kurang tidur, stres, sakit alias demam, kelaparan, makan berlebihan, paparan sinar nan terlalu terang.

3. Cedera kepala

Kejang nan timbul setelah cedera kepala pada anak umumnya dapat terjadi dalam minggu pertama setelah cedera terjadi. Namun tak jarang tegang muncul apalagi setelah lebih dari satu minggu berlalu, terutama ketika cedera tersebut mengakibatkan kerusakan permanen pada otak.

Bunda perlu memperhatikan bahwa setiap cedera kepala pada anak kudu diperlakukan serius, apalagi jika tidak terjadi tegang setelahnya. Dibutuhkan tindakan medis segera dan juga pemeriksaan lebih lanjut oleh master untuk memastikan tidak terjadi kerusakan otak nan lebih serius.

4. Meningitis

Kejang pada anak menjadi salah satu indikasi meningitis, nan merupakan peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis sering kali menyebabkan indikasi nan luas, termasuk demam tinggi, sakit kepala parah, kaku kuduk, muntah, kebingungan, sensitivitas terhadap sinar dan ruam kulit.

Kejang pada kasus meningitis biasanya disertai dengan gejala-gejala lainnya, termasuk tanda peringatan nan serius bahwa jangkitan telah menyebar ke sistem saraf. Jika Si Kecil mengalami tegang berbareng dengan gejala-gejala seperti demam tinggi dan kaku kuduk, Bunda segera mencari support medis untuk pertimbangan dan penanganan nan tepat.

Kejang demam

Diungkap master ahli anak di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta, dr. Aisya Fikritama, SpA, tegang demam adalah penyakit nan biasa dialami oleh anak-anak.

"Kejang demam merupakan demam nan disertai kejang, biasanya terjadi pada anak nan berumur 6 bulan sampai 5 tahun, sampai saat ini penyebabnya belum diketahui tetapi kondisi tersebut diketahui lantaran berangkaian dengan kenaikan suhu tubuh nan terlalu cepat," ujar Aisya saat dihubungi HaiBunda melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

Ciri-ciri anak tegang demam

Lebih lanjut dr. Aisya Fikritama, SpA menjelaskan ciri-ciri anak nan mengalami tegang demam ditandai dengan indikasi umum. Simak selengkapnya, Bunda untuk antisipasi kesehatan Si Kecil.

  1. Mengalami kenaikan suhu tubuh secara drastis, apalagi sampai lebih dari 38 derajat celcius
  2. Berkeringat secara berlebihan
  3. Tangan gemetar
  4. Mengalami kejang
  5. Buang air mini secara tiba-tiba
  6. Bola mata melirik ke atas
  7. Tidak merespons komunikasi
  8. Tidak ada kontak mata
  9. Pingsan alias kehilangan kesadaran, terutama setelah kejang

Derajat keparahan tegang demam

Meski tegang tidak selalu dimulai dengan indikasi demam, tetapi tegang demam merupakan salah satu kondisi paling umum pada anak-anak, terutama pada anak di bawah usia lima tahun. 

Seorang master ahli anak di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta, dr. Aisya Fikritama, SpA menjelaskan bahwa derajat keparahan tegang demam terdapat dua jenis, ialah tegang demam sederhana dan tegang demam kompleks. Berikut deretannya:

1. Kejang demam sederhana

Kejang demam sederhana sering kali ditandai dengan beberapa indikasi nan khas, termasuk mata nan memandang ke atas, kelojotan tubuh dan tegang dalam waktu nan singkat setelah kejadian pertama. Biasanya, setelah tegang demam pertama, anak bisa mengalami tegang lagi setelah beberapa jam.

Hal ini termasuk bagian dari karakter tegang demam sederhana nan lebih ringan. Meski begitu, Bunda perlu mencari support medis andaikan tegang bersambung alias jika ada indikasi nan mengkhawatirkan. Dokter anak dapat memberikan nasihat dan pengobatan nan tepat untuk Si Kecil.

2. Kejang demam kompleks

Kejang demam kompleks sering kali menunjukkan indikasi nan lebih kompleks dan melibatkan satu bagian tubuh saja, seperti sisi kiri alias kanan. Gejala ini termasuk mata nan melirik ke samping serta tegang nan mempengaruhi bagian tubuh nan lebih spesifik.

Bunda perlu memperhatikan bahwa tegang demam kompleks condong lebih rumit dan menimbulkan kekhawatiran nan lebih besar daripada tegang demam sederhana. Jika Si Kecil mengalami tegang demam kompleks, segera cari support medis untuk pertimbangan dan penanganan lebih lanjut.

Pengobatan anak ketika kejang

Pengobatan tegang pada memerlukan pendekatan nan jeli dan terencana. Terdapat banyak jenis obat nan tersedia dan kudu diberikan berasas aspek penyerta, seperti jenis tegang nan dialami, usia anak, pengaruh samping nan bakal timbul, dan kepatuhan dalam penggunaan obat.

Obat-obatan untuk tegang umumnya tersedia dalam beragam bentuk, termasuk kapsul, tablet, serbuk alias sirup nan diminum. Namun pada beberapa kasus, terutama ketika anak mengalami tegang nan parah dan memerlukan penanganan segera, obat dapat diberikan secara rektal alias melalui suntikan intravena (IV), terutama jika anak sedang dirawat di rumah sakit.

Bunda juga perlu memberikan obat kepada anak sesuai dengan resep master dan pada waktu nan tepat. Setiap anak bereaksi berbeda terhadap obat, sehingga penyesuaian dosis dan agenda pemberian diperlukan untuk mencapai pengendalian tegang nan optimal.

Seperti halnya dengan obat-obatan lainnya, semua obat untuk tegang dapat menimbulkan pengaruh samping. Walaupun beberapa anak mungkin tidak mengalami pengaruh samping sama sekali, Bunda perlu berbincang dengan master anak tentang kemungkinan pengaruh samping nan dapat timbul dan gimana langkah mengatasinya dapat perhatian. Hal ini bakal membantu memastikan bahwa pengobatan nan diberikan dengan kondusif dan efektif bagi anak.

Penanganan tegang pada anak saat di rumah

Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat Bunda memandang Si Kecil mengalami tegang tetap tenang dan melakukan perihal berikut ini. Simak selengkapnya.

  1. Letakkan anak di tempat nan aman, jauhkan dari benda-benda rawan seperti listrik dan pecah-belah
  2. Membaringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan alias barang lain nan ada dalam mulut bakal keluar sehingga anak terhindar dari ancaman tersedak
  3. Cegah Si Kecil untuk memasukkan barang apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orang tua, alias barang lainnya ke dalam mulut, alias memberi minum anak nan sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas andaikan luka
  4. Bunda tidak boleh berupaya untuk menahan aktivitas anak alias menghentikan tegang dengan paksa, lantaran dapat menyebabkan patah tulang
  5. Amati apa nan terjadi saat anak kejang, lantaran catatan ini menjadi info bagi dokter. Lalu tunggu sampai tegang berakhir dan bawa anak ke unit darurat gawat terdekat
  6. Apabila anak sudah pernah tegang demam sebelumnya, master bakal membekali orangtua dengan obat tegang nan dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai petunjuk dokter

Efek pasca kejang

Pasca tegang Si Kecil memerlukan pemulihan nan cukup. Dokter bakal menanyakan apa nan terjadi pada anak setelah tegang untuk memahami dampaknya pada tubuh dan kesejahteraan anak. Kejang menyebabkan kelelahan nan ekstrem dan kekurangan oksigen, sehingga anak merasa sangat capek apalagi tidak sadarkan diri setelah kejang.

Ketika tegang terjadi, aktivitas listrik dalam tubuh anak menjadi luar biasa menyebabkan tubuh kehilangan banyak energi. Setelah kejang, anak bakal merasa sangat capek dan memerlukan rehat nan cukup. Beberapa anak apalagi jatuh tertidur alias kehilangan kesadaran sejenak.

Selama kejang, semua aktivitas di otak berhenti, sehingga anak mengalami periode kesadaran nan terganggu alias bingung setelah kejang. Hal ini merupakan indikasi sisa dari kejang, dapat terjadi jika tegang terjadi secara berkali-kali dan tidak ditangani dengan baik.

Efek jangka panjang dari tegang meliputi gangguan perkembangan dan masalah neurologis lainnya. Dokter perlu memantau anak secara teratur setelah tegang untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan perawatan nan tepat dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Demikian ulasan tentang ciri-ciri tegang pada anak nan berbahaya. Semoga berfaedah untuk antisipasi kesehatan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya
Sumber HaiBunda
HaiBunda